Langsung ke konten utama

Tantangan k-7



Pembelajaran Kejujuran


 Baik seorang pendidik maupun orang tua tentu akan merasa bangga bila melihat anak berperilaku jujur. Membiasakan anak selalu jujur wajib. Mengapa? Agar kelak anak memiliki pribadi yang dapat dipercaya semua orang. Jujur merupakan hal terpenting dalam kehidupan. 

 Sesungguhnya melatih kejujuran anak bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun. Jelas sekali di sekolah, pendidik tak pernah lekang dengan pesan untuk berbuat jujur. Ketika anak bermain saja, ditekankan dengan kejujuran. Juga melalui contoh maupun kegiatan pembelajaran. Pendidik tidak hanya mentrasfer berbagai ilmu saja. Namun pembelajaran moral berupa kejujuran juga ditanamkan. Tentunya jujur dalam perkataan dan perbuatan. 



 Kejujuran dapat terlihat dari beberapa kegiatan di sekolah. sebagai contoh adalah kegiatan yang sering dilakukan anak didik. Mendapat pekerjaan rumah (PR) dari guru. Bila merasa malas berpikir akhirnya anak hanya menyalin jawaban dari pekerjaan teman atau mencari jawaban dari google saja. Bahkan karena sifat malas, minta tolong orang lain mengerjakan. Nah, ini adalah perilaku yang tidak jujur. 

 Melatih berbuat jujur tampak juga pada kegiatan pembelajaran bercerita. Ketika belajar tentang cerita maka pendidik bisa menyampaikan amanat cerita. Tujuannya pesan moral yang baik bisa ditiru anak. Nah, bercerita ini bisa melalui cerita yang dibawakan guru maupun cerita yang harus dibaca anak didik sebagai tugas membaca.

 Perilaku anak ketika mengerjakan ulangan juga mampu membiasakan anak jujur. Bagi anak yang tak belajar dan menyiapkan diri menghadapi ujian, mereka akan merasa sulit. Sehingga ketika menjawab soal juga akan bersikap curang. Bisa melirik jawaban teman atau bahkan asal jawab saja. Dan akhirnya hasil yang diperoleh akan mengecewakan. Oleh karena itu dorongan untuk mengerjakan dengan jujur sangat perlu disampaikan. 



 Di sekolah terdapat aktivitas yang melatih jujur. Jika waktu istirahat tiba, meski anak sudah membawa bekal dari rumah ternyata tetap ingin jajan. Maka sekolah menyediakan kantin. Dengan menjual makanan yang sehat dan alat sekolah. Dan kita namakan kantin kejujuran. 

Mengapa disebut kantin kejujuran? Yah, karena anak didik melayani sendiri dan membayar sendiri barang atau makanan yang diambilnya. Setiap jam istirahat kantin dibuka. Dan bagi anak-anak yang membutuhkan dipersilakan mengambil sendiri barangnya. Membayar dan menempatkan uang di tempat yang sudah ditentukan. Bahkan bila uang harus ada kembalian pun harus mengambil kembaliannya sendiri. Kemudian menulis barang yang dibelinya. Nah, kegiatan ini melatih kejujuran anak didik juga. 



 Tak kalah penting juga selalu memberi contoh. Yaitu selalu tepat janji. Maksudnya bila nenjanjikan sesuatu harus ditepati. Contohnya, guru menjanjikan ulangan harian maka harus ditepati untuk ulangan. Begitu pula pada anak harus ditekankan untuk selalu jujur dan tidak bohong.

 Dengan demikian bahwa kejujuran memang harus dilatih pada anak dimana dan kapan saja. Pendidik membimbing dan membersamai mereka tak pernah putus dengan teladan dan pembelajaran. Harapannya mereka bisa menjadi generasi yang dapat dipercaya dan yakin dengan kemampuannya sendiri. Karena kejujuran membuat hidup menjadi damai. Seperti kalimat bijak berikut, "Kejujuran menghindarkan dari keresahan."

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membangun Digital Space Yang Aman Untuk Anak

Membangun Digital Space Yang Aman Untuk Anak Pertemuan I program guru motivator literasi digital sore ini diiringi guyuran hujan yang cukup lebat. Alhamdulillah sinyal cuup bersahabat. Sehingga twtap bisa mengikuti dengan baik. Narasumber sore hari ini adalah Om Jay. Seorang guru blogger Indonesia yang sangat menginspirasi banyak orang di seluruh Indonesia. Beliau sebagai Sekjen Ikatan Guru TIK PGRI dan juga founder kelas menulis dan bicara. "Marilah kita mulai masuk", ajak Om Jay. Sebelum terdapat 4 hal yang haris dikuasai dalam literasi digital, yaitu kecakapan digital, budaya digital, etika digital dan keamanan digital. Kecakapan digital merupakan kemampuan individu dalam mengetahui, memahami dan mengginakan perangkas keras dan lunak dalam TIK. Budaya digital adalah kemampuan individu dalam membaca, menguraikan, membiasakan, memeriksa dan membangun wawasan kebangsaan, nilai Pancasila dan bhinneka tunggal ika dalam kehidupan sehari-hari. Etika digital adalah kemampua...

Cegah Cyber Bullying

Cegah Cyber Bullying  Pertemuan ke-4 guru motivator literasi digital sore ini dibuka moderator Ibu Rosminiyati. Narasumber yang menyajikan dengan judul cegah cyber bullying adalah Bapak Wijaya Kusumah, M.Pd atau sering dipanggil Om Jay.  Seperti biasa, kuliah sore ini dibagi menjadi 4 sesi: 1. Pembukaan  2. Pemaparan materi  3. Sesi Tanya Jawab  4. Penutup Apa itu cyber bullying?  Cyberbullying merupakan perilaku anti-sosial yang melecehkan ataupun merendajkan seseorang. Kebanyakan menimpa anak-anak dan remaja yang dilakukan secara online maupun atau di dunia siber.  Tndakan yang dapat dilakukan dalam mencegah dan menghentikan cyberbullying adalah  1. Jangan merespons.  Para pelaku bullying selalu menunggu reaksi korban. Untuk itu jangan terpancing untuk merespon aksi pelaku agar mereka tidak merasa diperhatikan   2. Jangan membalas aksi pelaku. Membalas apa yang dilakukan pelaku cyberbullying akan membuat Anda ikut menjadi pelaku ...

Menyalurkan Hobi di Platform Digital

Menyalurkan Hobi di Platform Digital Pertemuan ke tujuh kegiatan guru motivator literasi digital, tanggal 15 Nopember 2021 berlangsung dari pukul 16.00-18.00. Pelaksanaan dengan menggunakan aplikasi Whatshap (WA). Tak lupa ucapkan rasa syukur karena  sinyal tetap bersahabat. Sehingga meski diiringi guyuran hujan, semua materi dari narasumber bisa lancar diterima. Moderator acara sore ini adalah Ibu Rosminiyati. Disampaikan bahwa narasumbernya adalah Ibu Rita Wati, S.Kom. Beliau merupakan guru di SMP Negeri 2 Mendoyo Kab.Jembrana Bali.  Seperti biasa, kuliah sore ini dibagi menjadi 4 sesi: * Pembukaan * Penjabaran materi * Sesi Tanya Jawab * Penutup  Selanjutnya moderator membuka agenda dengan berdoa. Tentang Narasumber Terlahir dengan nama Rita Wati di Tanjung Pinang pada tahun 1402 Hijriyah dari orang tua berdarah minang.  Memiliki hobi membaca terkhusus buku-buku cerita sejak kecil. Masa kecil hingga remaja penulis habiskan di Tanjung Pinang Kepulauan Riau kemudi...